Martabak Untuk Ali

Fadli adik laki-lakiku, kelahirannya disambut begitu gembira oleh ayah dan mama, begitu dicinta.
Sekakin ia besar, sayangnya hidup ia makin tak mudah, ketika SMP Ali harus merasakan berpisah dengan ayah mama yang pindah ke bandung, ia dititipkan pada saudara jauh kami.

Kala itu saya pernah mendapatinya menangis di depan pintu rumah kost saya membawa kantong keresek berisi pakaiannya "Ali ngapain..?" Tanya saya.."Ali kangen kak.. mau nginep" Hari itu tak pernah bisa saya lupakan, kasihan sekali si Ali.

Ali adik saya yang besar seleranya itu kerap membujuk ayah membelikannya martabak hampir setiap malam, dengan persediaan uang yang makin menipis ayah akhirnya luluh membelikannya martabak kapanmun Ali mau.

Ayah kami meninggal saat ia kelas 3 SMP, Ali harus bertahan hidup dengan mama saja sebagai satu-satunya orang tua. Ketika masuk SMA ia dititipkan lagi, pada om kami, adik mama. Ali semakin kesepian.
Untungnya, mama menariknya kembali ke padang, dengan keadaan entah bagaimanapun caranya.. Akhirnya Ali bisa kuliah, ia lulus setelah lebih dari empat tahun. Muhammad Fadli, S.pd.
Sebulan yang lalu saya menerima kabar bahwa Ali diterima kerja, di sebuah startup milik seniornya di kampus, saya begitu bahagia..mengapa? Karena Ali menjalani pekerjaan yang begitu sejalan dengan idealismenya, passionnya, bakatnya. 
Bahwa ali akhirnya sudah bisa mendapatkan kesempatan untuk menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Gajinya belum besar, tapi tentu kebahagiaannya tak dapat digantikan dengan apapun.

Di akhir bulan saya mendengar kabar yang membuat saya terenyuh, ali menyisihkan sebagian gaji pertamanya untuk mama..dan akhirnya tiba masanya Ali bisa membeli martabaknya sendiri, membagikannya untuk adik-adik yang kami lain..

Selamat ulang tahun, Ali.
Kakak selalu berdoa untuk kebahagiaan Ali.

:)

Komentar

Postingan Populer