Membuat mainan sendiri, mainan alami.

Minggu lalu saya berkesempatan ngobrol di female radio dalam rubrik Joy Parenting membahas topik tentang mainan Alami.

Agak kurang persiapan sehingga adakalanya blank dan masih kaku juga ngobrolnya. Cerita ini mungkin subjektif karena berbasis pengalaman pribadi tapi semoga ini bisa memberikan gambaran yang lebih utuh tentang apa yang ingin saya ceritakan tentang membuat mainan sendiri di rumah, mainan alami.


Mengapa membuat mainan sendiri? 

Lima tahun perjalanan menjadi ibu mengajak saya menggali esensi bermain dan tentunya mainan itu sendiri.

Hingga kini saya masih terus belajar, tapi pengalaman di tahun pertama ketika mengenal 'mainan' dalam posisi sebagai orang tua masih melekat di pikiran, ketika anak baru lahir kita utamanya di kota besar sudah banyak terpapar dengan tawaran sana sini yang menggiurkan untuk punya berbagai mainan untuk anak, belum lagi banyaknya kado dari keluarga tersayang.

Banyak sekali pilihan produk yang menggoyahkan hati atas nama keperluan 'stimulasi' bagi pertumbuhan. Namun, di dalam diri ini kerap mempertanyakan "apakah anak butuh sebanyak itu? " dan "apakah kebiasaan konsumtif merupakan budaya yang baik untuk tumbuh dalam sebuah keluarga?" 

Alasan membuat mainan sendiri dimulai dari kesadaran bahwa anak (sebenarnya) tidak perlu memiliki terlalu banyak barang, pernahkah kita membelikan mainan ternyata anak lebih tertarik dengan kemasan/dusnya? Saat itu saya mulai mengamati bagaimana anak ternyata tidak butuh barang 'jadi', sesuatu yang lebih 'open ended' lebih disukai anak karena memberikan kebebasan untuk diubahnya menjadi sesuatu sesuai imajinasinya.

Mainan jadi yang buatan pabrik seringkali membuat anak lebih cepat bosan, mungkin anak akan terhibur beberapa saat, namun dalam waktu singkat ia akan lebih mudah kehabisan cara karena tidak banyak opsi yg dapat dilakukan untuk memainkan mainan tersebut.

Yang kerap mendatangkan masalah juga karena mainan pabrikan akan cenderung lebih 'nyampah', sejak dari proses produksinya, kemasannya, belum lagi jika rusak atau ada komponen yang hilang, maka sulit kesempatan untuk mainan tersebut dapat dimainkan kembali.

Maka kemudian, membuat mainan sendiri rasanya pilihan lebih bijaksana, masih teringat salah satu 'mainan' yang paling bertahan bertahun-tahun lamanya, sebuah 'kamera' dari kardus yang tengahnya dilubangi untuk mengintip, si sulung membawanya kemana-mana.

Dari membuat mainan ada kesempatan bagi kami menikmati proses juga menghargai buatan tangan, sebuah pengalaman berharga bagi anak menyaksikan bahan mentah mewujud menjadi barang jadi.

Di rumah kami dulu banyak stok bahan yg saya siapkan untuk membuat mainan, seiring anak-anak besar kemudian tumbuh pertanyaan baru tentang "apakah mainan anak harus dengan tujuan 'edukatif'?"

Lalu, bila anak bermain dengan 'kurikulum' yang dirancang khusus untuk mengatur jadwal dan cara bermain, maka kemudian "dimana ruang untuk pemikiran, imajinasi juga kreativitas anak dapat tumbuh dengan sendirinya?"

Kemudian perjalanan pun menuntun saya untuk menemukan tentang bagaimana bermain juga mainan yang sehat pada filosofi Waldorf.

Dari bermain anak-anak berkesempatan untuk terhubung dengan dunia ini, mainan yang berasal dari bahan alami akan memberikan anak kesempatan untuk merasakan berbagai tekstur dan berbagai unsur. Elemen di alam, dapat dirasakan oleh anak melalui bermain, kesempatan ini membawa pengalaman indera yang kaya bagi keseharian anak-anak.

Akan beda rasanya bila tekstur yang lebih banyak berinteraksi merupakan benda mati yang seragam, juga benda benda berbahan kimia sintetis, bandingkan apa yang terasa pada anak ketika bermain dengan kayu yang berat, kapas yang lembut, pasir berbutir, pengalaman ini tidak hanya terasa di fisik, tapi juga di psikis, bagaimana anak lekat dan kenal dengan alamnya akan menumbuhkan rasa takzim, hingga nantinya kelak ketika dewasa (semoga) berbuah jadi rasa hormat dan ingin memelihara karena ia merasa bagian dari alam semesta.

Mainan apa yang dapat dibuat di rumah.?

Pada dasarnya membuat mainan anak tidak perlu sulit ataupun rumit. Anak-anak terlahir dengan rasa kecintaan pada hal-hal sederhana. Orang tua dapat memeliharanya dengan menyediakan mainan sederhana dari bahan alami.

Kayu yang dipotong menjadi balok balok dapat dibuat menjadi apapun melalui kreativitas anak, benang kain dapat dirajutnya atau dibuatnya menjadi berbagai macam guna, yang orang dewasa pun belum tentu dapat bayangkan.

Sebuah boneka kayu mungil dengan pakaiannya, kita tak perlu memberikan banyak aksesoris, sisakan cukup ruang untuk imajinasi.

Beberapa boneka berbentuk hewan dapat kita jahit sendiri di rumah, anak-anak tak selalu perlu mainan penuh detail dan seragam, kita tau warna kuda tak selalu coklat, corak bulu hewan tak ada yang identik, bentuknya pun tak ada yang seragam, dari mainan yang lebih sederhana ada jalan untuk anak belajar individualitas, dan pada saat yang bersamaan juga menghargai perbedaan.

Boneka manusia pun tak perlu berbentuk terlalu sempurna dengan detail wajah, anak-anak belajar kasih sayang, anak-anak dapat berempati lewat imajinasi pada berbagai macam ekspresi lewat wajah boneka yang sederhana.

Sebuah kesempatan berharga dapat kita berikan untuk memelihara dan menumbuhkan keterbukaan dan kelenturan berpikir anak.

Bermain merupakan hal vital di masa kanak-kanak, bagaimana kita menyediakan ruang yang cukup untuk kapasitasnya tumbuh akan menjadikannya manusia seutuhnya.




Komentar

Postingan Populer