Studi Grup September

Sabtu lalu, membukakan pintu seluas luasnya untuk belajar bersama.
Lewat proses pembelajaran beberapa waktu ini rasanya banyak kisah yang ingin dibagi ke teman-teman, sesama pendidik, sesama orang tua.


Dengan begitu kaya dan dalamnya materi tentang pendidikan Waldorf, saya mencari - cari jalan harus mulai darimana. Setelah membaca dan berkontemplasi berulang kali, diputuskan untuk membuka kotak pandoranya lewat filosofi Waldorf tentang hakikat anak, the nature of the Child.

Untuk semua tujuan pendidikan rasanya pengetahuan kita tentang hakikat manusia sejak kanak-kanak akan menjadi jangkar yang selalu dapat mengingatkan kembali kenapa kita melakukan ini semua, untuk selalu mengingatkan bahwa pertumbuhan anak punya tahapannya sendiri, ada fase fase yang harus dipahami dan dihormati, pemahaman yang menyeluruh akan membantu anak-anak tumbuh menjadi manusia seutuhnya.

Membuka topik pendidikan Waldorf tentu tidak luput dari pengetahuan dasar tentang 12 Indera dan juga tiga bagian dari manusia, karsa, rasa dan akal (willing, Feeling dan Thinking).



Dalam pemahaman saya dari berbagai sumber dan pengalaman sebagai orang tua, ada beberapa poin yang menjadi benang merah dasar dari ciri kebutuhan anak usia dini.

Poin pertama yang kami bahas kemarin adalah tentang aktivitas anak. Di usia 0-7 tahun anak sedang membangun tubuh fisiknya, sehingga ia punya kebutuhan tinggi untuk bergerak dan mencari keseimbangan dalam dirinya, jiwa dan raga. Penting untuk berikan ruang baik secara fisik maupun mental untuk anak dapat bergerak dan bereksplorasi secara alami.

Ruang yang cukup akan memampukan anak untuk mengenali seluruh tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki, gerak alami tanpa instruksi dan intervensi berlebihan akan menumbuhkan rasa percaya diri karena proses belajar adalah pengalaman yang sangat individual, kesempatan adalah hal yang paling berharga untuk bekal dalam pendidikan.

Lucu terkadang bila mendengar orang tua berkata "anaknya nggak bisa diem nih", bergerak memang sudah alamiahnya anak, salah satu tanda yang menunjukan apakah anak dalam kondisi sehat, anak-anak lahir dengan impuls dan spontanitas.

Yang penting bagi orang tua adalah mengelola kemauan bergerak ini pada tempatnya melalui ritme. Anak-anak adalah makhluk ciptaan-Nya yang sebenarnya sudah punya siklus alaminya, kita menjaga agar perputarannya ada pada jalurnya, istirahat yang cukup, gerak yang cukup dan transisi yang lembut pada setiap pergantian waktu.

Karnanya dibutuhkan keseharian yang sederhana agar energi yang tercurah tidak berlebihan, butuh keberadaan orang dewasa yang layak ditiru agar anak-anakpun tumbuh seperti yang kita mau, a free human being that is socially responsible.

Donna Simmons menyimpulkan sebuah pertanyaan untuk jadi panduan pendidik bagi anak 0-7 tahun, "how can I help him /her fit into his/her body?" ketika sedang berusaha menerjemahkan konsep ini, sahabat saya di Balikpapan membantu dengan mengilustrasikannya sebagai masa dimana jiwa anak sedang menyesuaikan 'rumah' untuk dirinya. Seperti yang kita ketahui, our body is the home for our soul, dan sejak lahir rasa memiliki raga bagi jiwa manusia sedang dimulai prosesnya,  keberadaan kita di muka bumi ini juga seiring dengan dimulainya pencarian jati diri.

Tanpa rasa kenyamanan atas tubuh yang terus berkembang seiring berjalannya waktu, akan sulit bagi jiwa untuk menerima setiap perubahan, tentunya hal ini akan mengganggu perkembangan emosi dan intelegensia.

Dan masa-masa inilah waktunya kegiatan bergerak membantu anak merasa nyaman dengan fisiknya, melalui bergerak dan kegiatan yang melati keseimbangan, semakin kenal dengan tubuh, semakin kita mengenal fungsi tiap tiap anggota yang ada. --dan lagi-lagi, itu hal yang tak bisa diajarkan, kita hanya bisa mengarahkan. Bisa benar bisa juga salah, tapi setidaknya itulah pemahaman yang saya dapat dr diskusi saat itu.

Itulah mengapa saya begitu menikmati cara belajar seperti ini, bukan melulu satu pemateri dan yang lain mendengarkan, tetapi kita membaca sumber, menggali dan mengkaji bersama. Pendapat tiap orang penting untuk mendapatkan pemahaman dari berbagai sudut pandang sehingga kita dapat berjalan bersama menuju pemahaman yang utuh.

Hari itu sangat menantang inner balance, saya gugup menjaga agar pembicaraan tetap pada jalurnya dan juga tetap objektif, pemahaman saya pada 12 indera begitu personal hingga rasanya harus bekerja keras untuk menerjemahkannya secara universal.

Dengan pengalaman berbagi kisah untuk pertama kali, tak bisa dipungkiri ada perasaan dimana kepala ini terkuras energinya untuk berpikir. Matahari beranjak pulang, kami pun mengakhiri diskusi dan melanjutkan sesi art bersama dalam kegiatan melukis wet on wet.



Ada rasa yang sangat berbeda, melukis menjadi kegiatan yang sangat nyaman,  sensasi yang berbeda antara menguras akal dan mengolah rasa. sungguh indah peran dari berkesenian, Feeling yang menyeimbangkan thinking.


Kami pun meninggalkan halaman belakang ketika langit sudah benar-benar gelap dan azan magrib berkumandang. Di dalam rumah kami melanjutkan obrolan ditemani cemilan yang dibawa teman-teman.

Senja itu saya merasakan kehangatan dan keberlimpahan, teringat mengapa puteri kedua saya dinamakan Agnia yang berarti kaya, karena begitulah yang saya rasakan dari rahmat Yang Maha Kuasa, berlimpah karunianya untuk kita. Karunia seluas-luasnya tak berbatas hanya harta.

Hari itu ada syukur teramat dalam, untuk pengalaman seru, serta lingkaran dan harapan yang baru.

Thank you abundantly.

PS : lalu apa empat poin nature of the child lainnya? Sampai bertemu di studi grup berikutnya. 

Komentar

Postingan Populer