Ramadhan ketigapuluh

Dulu sewaktu awal awal belajar puasa rasanya menderita betul, menggerutu karena kenikmatannya diambil, ini itu dilarang sampai terucap”why do I suffer this hard? ‘menatap nanar tetesan embun dari botol air minum di kulkas.*

I live with the question for years, dan dengan sangat beruntungnya pertanyaan itu terjawab dari tahun ke tahun. Hingga ramadhan ketigapuluh ini makin membawa ke makna betapa sakralnya ramadhan karena ia meninggalkan kesan mendalam di hati insan yang menjalankan.



Teman-teman pasti merasakan juga tiap ramadhan itu unik gak ada yang sama, ada ramadhan yang penuh harapan, ramadhan penuh penyesalan, ramadhan sungguh sungguh memohon ampunan, ramadhan penuh dengan mengejar ibadah, ramadhan mati-matian ngejar duit juga pernah haha.tapi begitulah ramadhan, ia royal pada ijabah, tergantung itikadmu mau ditujukan kemana. Yang jelas, bagi yang mengamatinya, tiap ramadhan itu jadi perayaan bagi makhluk ciptaanNya.

Ramadhan tahun ini seperti membuka lapisan baru lagi pada hakikatnya, bahwa ramadhan itu bukan cuma pengorbanan, ibadah manusia yang banyakan pamrihnya daripada lillahnya itu gak seberapa.

Bayangkan sepanjang tahun tanpa rehat. Mulut yang terllau banyak mengunyah, perut yang terlalu banyak mencerna,hati yang terlalu banyak merasa, akal yang terlalu banyak berpikir (tapi sedikit pelaksanaannya. Indera yang terlalu banyak terpapar dunia luar, seringkali terlalu banyak, seringkali tak bermanfaaat.belum lagi sampai sampah batin yang membludak.

Jiwa kita butuh diam, ia sudah berbulan bulan terabaikan.
Manusia adalah makhluk ritmikal, yang kelangsungan hidupnya butuh keadaan seimbang, dan begitu sayangnya Tuhan kita diberikan ruang dan waktu dalam hitungan minggu untuk menyayangi diri ini. Kita diberikan kesempatan untuk mendengar tubuh kita butuh apa, kesempatan untuk bicara sedekat-dekatnya pada pencipta, kesempatan untuk merapikan lagi irama jiwa raga.

Ramadan yang mulia, dengan berkah seluas-luasnya, tak bisa dibayarkan dengan iming-iming sepeda atau salam tempel di hari raya.

Ramadhan yang istimewa, yang menyuplai kembali asupan jiwa. Yang mengajak kita hadir, penih, utuh, menjadi manusia apa adanya.

Ramadhan, bersamamu aku selalu membawa pengharapan. Tahun ini aku berdoa, semoga semua yang telah kutempuh selama ini akan membuahkan kebijaksanaan.

Komentar

Postingan Populer